Mata Kuliah yang Memimpin Karir Anda di Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika


Beberapa mahasiswa khawatir akan keputusan mereka yang akan membuat mereka menyesal setelah mengalami lebih banyak pengalaman hidup. Yang lain khawatir akan prospek kerja dan bagaimana keputusan mereka mempengaruhi mereka. Akan tetapi, banyak mahasiswa gagal dalam menyadari bahwa hampir semua pekerjaan membutuhkan tidak hanya keahlian teknis, akan tetapi juga individual yang memiliki keahlian dalam berkomunikasi dan menangani masalah.

Bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sedang berkembang pesat di bagian lowongan kerja dan renumerasi. Banyak pegawai dan pemerintah di seluruh dunia mendukung lebih banyak mahasiswa untuk masuk ke bidang STEM dengan alasan untuk mengantisipasi krisis yang berhubungan dengan kurangnya pekerja STEM dalam waktu dekat ini.

Namun, terkadang mahasiswa yang tertarik di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika, tidak memiliki nilai yang cukup bagus untuk bisa berhasil di bidang tersebut, atau mereka tidak memiliki bakat. Untuk alasan pragmatis, mereka mungkin akan memilih bidang lain dikarenakan mereka merasa tidak akan berhasil di bidang STEM.

Di dalam artikel yang merespons tentang klaim mengenai kekurangan pekerja STEM di masa depan, Robert N. Charette memberikan kesimpulan bahwa tidak akan ada kekurangan pekerja STEM, akan tetapi akan ada kekurangan pekerja STEM yang berpengetahuan luas. Dia menulisnya sebagai berikut,

“Pandangan yang lebih luas, dimana saya dan yang lain akan berdebat mencakup hal dimana semua orang membutuhkan dasar kuat di bidang sains, teknik, dan matematika. Dengan begitu, tentunya akan ada kekurangan- yakni kekurangan pengetahuan STEM. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, anda tidak harus memerlukan gelar universitas atau perguruan tinggi di pendidikan STEM, akan tetapi anda perlu mempelajari mata kuliah tersebut dan belajarlah dengan baik dan benar, dimulai dari masa kecil sampai anda memasuki kuliah atau pekerjaan. Meningkatkan keahlian STEM, semua orang tentunya akan berpengaruh sangat baik untuk tenaga kerja dan untuk prospek pekerjaan orang tersebut, untuk perdebatan polis publik, untuk tugas setiap hari seperti menyeimbangkan buku cek dan menghitung resiko. Dan, tentunya, ketika sains, matematika dan teknik diajarkan dengan baik, mereka memiliki hubungan khusus dengan rasa ingin tahu intelektual para mahasiswa tentang dunia ini dan bagaiman caranya bekerja.” Ini didukung oleh laporan terbaru dari biro sensus Amerika Serikat yang berhubungan dengan lulusan STEM dan non-STEM, dan kelompok pekerjaan mereka.

Dapat kita lihat bahwa sekitar 22% orang yang dipekerjakan berasal dari jurusan non-STEM. Ini merupakan angka yang cukup penting. Untuk melihat rincian yang lebih jelas mengenai jurusan non-STEM, mari kita lihat visualisasi berikut.

Meskipun jurusan yang berhubungan dengan STEM masuk ke dalam kategori bidang STEM, kita bisa melihat bahwa mahasiswa bisnis memiliki jumlah terbanyak di jurusan non-STEM di bidang STEM. Ini bukan berarti bahwa mahasiswa dari jurusan lain tidak mengambil pekerjaan ini. Dapat kita lihat bahwa setiap departemen memiliki perwakilan, termasuk visual dan seni pertunjukan, yang pastinya bukan merupakan rekan dengan bidang STEM.

Ini hanya menunjukan satu hal, mahasiswa tidak dikekang oleh keputusan pendidikan mereka. Mahasiswa yang memiliki banyak keahlian dan bisa belajar dengan cepat bisa memilki prospek karir yang banyak dan beranekaragam. Seperti yang dikatakan Charette, mahasiswa tidak perlu khawatir karena “anak yang lahir hari ini memiliki kemungkinan untuk hidup sampai umur 100 dan memiliki tidak hanya satu karir, tetapi dua atau tiga sampai pada saat mereka pension di usia 80. Daripada membuang sumberdaya langka pada mitor kekurangan STEM, kita harus mencari tahu bagaimana cara membuat semua anak belajar sains, teknologi, dan seni untuk memberikan mereka dasar terbaik untuk mendapatkan karir, lalu pindah ke karir yang baru.”

Diposting pada 09 Okt 2017
Jurusan, Karir, Kuliah di Luar Negeri

Bagikan ini