Tagar Justice For Audrey Tidak Seharusnya Diteruskan

By Mutiara | Last modified 15 Apr 2019
Sebarkan laman ini

berita tagar justice for audrey terbaru

Headline pemberitaan dengan ramainya masih terus menggulirkan kasus penganiayaan yang dihadapi oleh seorang siswa SMP berusia 14 tahun di Pontianak. Di mana tindakan dilakukan oleh pelaku terduga merupakan 12 kakak kelas yang duduk di bangku SMA.

Dimulai dari saling sindir lewat media sosial terkait soal hubungan asmara antara kakak korban dengan salah satu pelaku berakhir dengan penindasan alias bullying.

Kalau kamu perhatikan, ada 2 poin yang membuat warganet gempar dan marah akan kasus ini:

1. Kekerasan yang segaris dengan kasus perkosaan.

Kabar dari internet menguak bahwa korban diduga ditusuk oleh jari para pelaku pada kemaluannya untuk menghilangkan keperawanannya.

2. Tanggapan yang tidak diharapkan dari pelaku dan KPPAD setempat

KPPAD (Komisi Perlindungan Pengawasan Anak Daerah)  mengupayakan damai untuk melindungi masa depan para pelaku yang masih di bawah umur.

Beberapa media telah melakukan wawancara dengan polisi dan KPPAD Kalimantan Barat dan membantah kebenaran berita tersebut.

Kenyataannya, pelaku tidak menusuk jarinya ke alat kemaluan pelaku. Memang benar adanya kalau alat kemaluan korban terkena hajar sampai memar. Namun, korban masih dalam keadaan memakai celana.

Dan juga, KPPAD memberi advokasi hukum kepada korban. Saat kelanjutan kasus secara hukum diminta oleh korban, KPPAD berkomitmen untuk mendampinginya secara hukum.
Di luar dari kedua hal ini, adakah kesalahan lainnya yang terdapat dari kasus ini?

Tidakkah ada poin lainnya yang bisa diangkat dari kasus ini? Yang juga bisa kita sama-sama renungkan kepada isu-isu yang ada di sekitar kita sendiri?

Seiring dengan viralnya kasus, ilustrasi gambar beserta tagar pun mencuat di linimasa Twitter.

tagar justice for audrey linimasa twitter

Mungkin kamu sudah pernah melihatnya di timeline sosial media kamu sendiri.

Karikatur yang memperlihatkan sebuah potret seorang gadis remaja yang mengenakan baju berwarna putih, berambut ikal warna hitam dengan bando warna putih yang tersemat pada rambutnya.

Warna kuning mustard menggambarkan warna kulit sang gadis remaja yang dihiaskan oleh coretan dalam bahasa Inggris yang menjuruskan ujaran bernada kebencian.

Beberapa di antaranya adalah,

“Just look at her,”

“Just be poor,”

“It’s so gross,”

“Look at her,”

“Did you see that she’s f***ing ugly,”

Tapi pernahkah kamu melihat ilustrasi itu dengan lebih seksama lagi?

Kamu akan menemukan ekspresi wajah sedih di balik seorang gadis remaja di dalam potret ilustrasi tersebut. Nampak lesu dengan keadaannya tertunduk, seolah mewakili perasaan dan memberi ekspresi rasa cemas, bingung, dan takut dengan jelas.

Terlebih dari itu, ada gambar banyak jari berwarna hitam yang menunjuk sang gadis. Seakan-akan menyudutkan dan mewakili dari tindakan para pelaku bully.

Tapi yang terus-menerus dibahas oleh warganet hanyalah seputar berita-berita hoax dan luapan emosi akan kasusnya.

Hingga akhirnya muncul doxing identitas pelaku. Akun sosial media mereka disebar dan akhirnya mereka juga kena cyberbully.

Tapi entah kenapa, nampaknya warganet yang menghujat si pelaku di kolom komentar mereka sendiri itu sebenarnya cuman memberi makan ego mereka sendiri untuk marah-marah. Tidak menyelesaikan apa pun, dan akhirnya bikin rantai dendam jadi tambah panjang.

Sudah terlalu banyak kasus di Indonesia dimana orang asal menghakimi dan sok menghukum secara massal. Yang biasanya berakhir dengan, “Kita bully balik aja si tukang bully. Biar tau rasa.”

HEEEIII, stop! Hal seperti ini nih yang membuat kultur bullying semakin subur. Sadar nggak akan ironi nya?


Jejak digital dan luka yang tertinggal di dalam hati dan mental seseorang nggak hanya sembuh dari berjalannya waktu.

Cara paling efektif untuk membasmi kultur bullying ya dengan kedewasaan.

Untuk menegur teman kita yang ngebully temannya. Untuk menyadari bahwa kejahatan adalah kejahatan, tidak peduli korbannya salah atau tidak. Dan untuk memberhentikan rantai kejahatan dan bullying itu di diri kita.

Jangan sampai hal yang sama terulang lagi, apalagi di sekitar kita sendiri!

Diposting pada 15 Apr 2019
Berita